Rabu, 21 Juni 2017

Pelajaran Dari GERMANWINGS


Ditulis untuk menyambut Liburan/Lebaran dan ramainya transportasi (Peak Season Transportation).
 
Pembahasan meliputi :

1.      Pintu Kokpit (Cockpit Door)
Sesuai dengan Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil yang baru dan Regulasi yang ada di (Federal Aviation Regulation) menerangkan bahwa :
  1. Antara Kokpit tempat Pilot pesawat terbang dengan Kabin Penumpang harus ada sekat berpintu (Cockpit Door).
  2. Pintu ini harus cukup kuat (tahan dari kerusakan dan anti peluru) sehingga diharapkan agar penumpang dari kabin tidak dapat memaksa dan menerobos masuk ke dalam kokpit.

Dengan melihat kondisi seperti ini, sangat wajar apabila Pintu Kokpit telah dikunci oleh Pilot dari Kokpit, maka sangat tidak mungkin untuk membukanya dari kabin penumpang.

Solusi dan usulan perbaikannya adalah :
  1. Pintu kokpit harus dapat dibuka dari Kabin penumpang dengan Kunci Rahasia, hanya Pilot saja yang mengetahui kunci rahasia ini.
  2. Pilot yang keluar dari Kokpit harus selalu membawa Kunci Rahasia ini.

 

2.      Koordinasi Pilot (Pilot Coordination)

Sesuai dengan yang tertulisdalam Buku Petunjuk Terbang (Airplane Flight Manual) dan Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil bahwa pesawat terbang Airbus tersebut pasti dikemudikan oleh minimum 2 (dua) orang Pilot.

Dengan satu orang Pilot telah meninggalkan tempat duduknya (Pilot Seat) maka diperlukan Aircrew pengganti untuk menggantikan posisi tersebut.

Solusi dan usulan perbaikan adalah :
a.       Selain dua orang Pilot yang menerbangkan pesawat masih dibutuhkan Aircrew ketiga apabila sewaktu waktu dibutuhkan apabila seorang Pilot meninggalkan tempat duduknya.
b.      Aircrew ketiga ini adalah Safety Pilot dan sebaiknya Pilot Senior baik segi umur maupun pengetahuannya.
c.       Tugas dari Safety Pilot adalah untuk memastikan Keselamatan Terbang umumnya terutama di Kabin Penumpang sebab di Kokpit sudah ada Pilot bertugas. Atau sebagai Humas penghubung dengan Penumpang di kabin dan Kepala Pramugari/a.

 

3.      Gangguan Kejiwaan Pilot (Pilot Psychopath)

Kesehatan Pilot (Physical Check) secara berkala sudah di cek kesehatannya oleh Kesehatan Penerbangan Dirjen Perhubungan Udara. Tetapi hal ini tidak menghentikan adanya banyak kegiatan bunuh diri selama ini yang dilakukan oleh Pilot beserta pesawatnya sehingga menelan banyak korban.

Solusi dan usulan perbaikan adalah :
Para Pilot secara berkala dan rutin harus mengikuti semacam Psycho Test dan Ujian Mental untuk mengetahui Masalah Batin yang dihadapi Pilot bertugas dan Gangguan Mental Pilot yang sedang bertugas.
Ujian mental pilot ini diadakan oleh Psikiater (Psychiatrist) penerbangan yang berpengalaman.

 

4.      Duka Keluarga Korban Kecelakaan.

Dimana keluarga korban masih tengah bersedih, maka sangat tidak pantas mengaitkan kejadian ini dengan aksi terorisme apalagi Agama tertentu sebab tidak ada agama apapun di dunia ini yang mengajarkan terorisme. Sebab ada tetulis di dalam Kitab Suci agama agama :
  1. “Janganlah engkau membuat kerusakan di dunia ini”.
  2. Ketika Yesus hendak ditangkap di taman Getsemani untuk disalibkan Ia berkata : “Tangkaplah dan bawalah Aku saja, tetapi biarkanlah murid muridKu ini pergi”.

Dari kedua ayat ayat suci tersebut jelas sekali bahwa Agama agama tidak menghendaki adanya kerusakan baik harta benda maupun tubuh manusia itu sendiri. Seperti halnya Kecelakaan dan Pembunuhan yang disengaja apalagi Perang. Malah Agama mau menunjukkan bahwa ada seseorang yang dapat dipercaya dan diandalkan itulah Jiwa Pemimpin Sejati, sebab Yesus mau mengorbankan diri untuk keselamatan pengikutNya. Begitu juga hendaknya hal ini dapat dicontoh dan diteladani oleh Para Pilot, Nahkoda dan Sopir yang membawa banyak penumpang yang mempercayakan keselamatannya kepada anda. Berilah para penumpang anda Keselamatan dan Kepercayaan…..….agar merasa aman.

 Salam untuk semuanya dari,
Mula Fridus, baca selengkapnya di http://mulafbb.blogspot.com

 
Bahan Referensi Tulisan :

Ini Detik-Detik Akhir Sebelum Pesawat Germanwings Jatuh
Sunday, 29 March 2015, 21:49 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, BARCELONA -- Transkip kota hitam pesawat Germanwings mengungkap percakapan terakhir antara pilot Patrick Sondheimer dengan kopilot Andreas Lubitz, Ahad (29/3).

Sebelum kecelakaan Sondheimer terdengar berteriak pada dengan nada keras dan kasar agar pintu kokpit dibuka, Lubitz namun tidak digubris sama sekali.
''Buka pintu ini s*alan !,'' kata Sondheimer di detik-detik terakhir sebelum pesawat menghantam pegunungan Alpen dan hancur berkeping-keping. Suara teriakan penumpang di belakangnya terdengar sangat menyedihkan dan tak berdaya.
Koran Jerman Bild am Sonntag mengungkapkan suara-suara terakhir dari pesawat berpenumpang 150 orang tersebut. Transkrip yang belum dirilis secara resmi itu merupakan rekaman suara kokpit.
Di menit-menit awal penerbangan, semua terdengar normal. Percakapan antara dua rekan dan kebisingan mesin kokpit. Sondheimer mengatakan ia belum sempat ke toilet saat di bandara.
''Kau bisa pergi kapan saja,'' katanya.
Beberapa waktu kemudian, Sondheimer meminta Lubitz untuk bersiap
landing.
''Kau ambil alih,'' katanya, dikutip Mirror.
Sementara Lubitz hanya menjawab ''Lihat saja, Kau bisa pergi sekarang,'' katanya tenang.
Sondheimer pergi dan kokpit terkunci. Lubitz terdengar menekan sebuah tombol dan pesawat langsung turun perlahan dari ketinggian 38 ribu kaki. Penumpang tidak sadar bahwa pesawat sedang menukik menuju pegunungan.
Sondheimer kemudian terdengar menggedor pintu meminta masuk kokpit. Tak digubris Lubitz, Ia berteriak lebih keras dan memohon. ''Demi Tuhan, buka pintunya!,'' kata dia.
Sondheimer terdengar menggunakan kapak untuk membuka paksa pintu kokpit sementara Lubitz tetap diam membisu di dalam. Saat itu penumpang mulai terdengar berteriak-teriak. Sondheimer terdengar panik dan depresi. ''Buka pintu s*alan ini!,'' bentaknya.
Suara semakin bising, riuh penumpang berteriak-teriak, kemudian rekaman habis.
Dikutip Telegraph, kopilot 27 tahun itu belakangan diketahui mengalami masalah penglihatan dan sedang menerima pengobatan psikis. New York Times melaporkan bahwa Lubitz mendapat perawatan dari Dusseldorf University Hospital untuk masalah penglihatan.
Polisi mengatakan mereka menemukan obat antidepresan di rumah Lubitz. ''Kita tak punya petunjuk tentang apa yang melintas di kepalanya,'' kata dokter Simon Wessely dari Institute of Psychiatry di King's College London.
''Meskipun jika kami memiliki semua rekam medis Lubitz dan telah mewawancarainya langsung, itu tetap tidak bisa menjelaskan apa yang terjadi padanya dan apa yang mempengaruhinya,'' kata Wessely. Dokumen medis menunjukan ia pernah sakit.
Tetangga Lubitz terkejut dengan dugaan kecelakaan sengaja yang diduga dilakukan Lubitz. Mereka mengenal pria tersebut sebagai pria yang sangat sehat secara fisik. Catatannya menyebutkan Lubitz sering melakukan lari jarak jauh. Ia lulus semua tes medis untuk pilot Germanwings.
Dokter dari Royal College of Psychiatrists Inggris Raj Persaud mengatakan pembunuhan massal bisa diakibatkan gangguan kepribadian pelaku. ''Mereka merasa sesuatu yang begitu mengerikan telah dilakukan pada mereka sehingga mereka melakukan bencana sebagai balas dendam,'' katanya.
Menurut Persaud, bencana tersebut seperti seimbang dengan apa yang pernah mereka derita. Namun, tambah Persaud, mencegahnya menjadi sulit karena pelaku kadang pintar menyembunyikan apa yang mereka rasakan.
''Orang bisa sangat terampil membuat topeng,'' kata Paul Keedwell, psikiater khusus gangguan
mood dari Cardiff University. Menurutnya, akan tidak bijaksana jika menganggap kesengajaan Lubitz mencelakaan pesawat adalah tindakan agresif.
Menurutnya, bisa saja Lubitz hanya menginginkan kematian dirinya sendiri dan tidak peduli dengan orang sekitarnya. Beberapa ahli mengatakan pelaku pembunuhan massal juga bisa jadi ingin dikenal orang banyak dan menjadi terkenal.
''Subjek dapat ketenaran dengan melakukan sesuatu yang akan diingat dunia, meskipun sebagai pahlawan negatif,'' kata Dr Roland Coutanceau, presiden Liga Perancis untuk Kesehatan Mental.
Dia mengatakan tindakan seperti itu kadang-kadang dilakukan oleh orang-orang paranoid dan marah pada majikan atau masyarakat luas.

''Ini adalah tindakan destruktif yang (memberikan) dia semacam keabadian,'' kata Coutanceau. ''Kematian hanya bagian dari script," tutupnya.
 

Suasana Histeris Penumpang Germanwings Terekam
Senin, 30 Maret 2015, 05:39 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Penumpang pesawat naas Germanwings tipe Airbus 320 diketahui menjerit histeris selama 5 menit sejak sang pilot mencoba masuk kembali ke dalam kokpit yang ternyata telah dikunci oleh sang kopilot, Andreas Lubitz dengan sengaja.
Dari rekaman kotak hitam, terdengar jeritan penumpang bertahan sampai detik-detik tumbukan pesawat dengan pegunungan Alpen. Dari rekaman ini bisa disimpulkan bahwa para penumpang secara sadar mengalami detik-detik kecelakaan yang menewaskan 150 penumpang ini.
Penyidik Brice Robin mengungkapkan, rekaman kotak hitam dengan jelas memberikan petunjuk kengerian yang terjadi di dalam kabin pesawat saat detik-detik menjelang jatuhnya pesawat tersebut. Radar penerbangan merekam bahwa pukul 10.29 pesawat menukik sejauh 316 kaki dan pada pukul 10.32 diketahui pesawat telah berada pada ketinggian 1.800 kaki.
Pada saat tersebut pengendali lalu lintas udara mencoba menghubungi pesawat namun tanpa hasil, dan sejurus kemudian alarm berbunyi.


 Sondheimer, sang pilot, kemudian terdengar menggedor pintu meminta masuk kokpit. Tak digubris Lubitz, Ia berteriak lebih keras dan memohon. ''Demi Tuhan, buka pintunya!,'' kata dia.
Sondheimer terdengar menggunakan kapak untuk membuka paksa pintu kokpit
sementara Lubitz tetap diam membisu di dalam. Saat itu penumpang mulai terdengar berteriak-teriak. Sondheimer terdengar panik dan depresi.
''Buka pintu s*alan ini!,'' bentaknya.
Suara semakin bising, riuh penumpang berteriak-teriak, kemudian rekaman habis
.

 

Kamis, 23 Februari 2017

Kontroversi Pembelian Helikopter Agusta Westland


Seiring ramainya kampanye dan hiruk pikuknya pilkada 2017, tidak kalah ramainya pembelian helikopter produksi perusahaan patungan Agusta (Italia) dan Westland (Inggris) Tipe Merlin AW-101oleh pemerintah Indonesia. Pembelian helikopter Merlin AW-101 itu menimbulkan kontroversi dan perselisihan baik di masyarakat maupun di dalam lembaga pemerintah.

Banyak aspek yang menimbulkan kontroversi, perdebatan dan perselisihan. Diantaranya adalah Mencerdaskan kehidupan bangsa, Sumber Daya Manusia, Transfer teknologi asing kepada bangsa Indonesia, Kemampuan Teknis Helikopter, Kewenangan Administrasi dan Prosedur Pembelian Helikopter dll. Dalam hal ini penulis akan membatas batasi pokok pembahasan. Penulis tidak akan membahas faktor non teknis, seperti administrasi, prosedur, persyaratan, undang undang, peraturan dll. Tetapi penulis berusaha mengungkap keuntungan teknis yang didapat serta keuntungan lain bagi bangsa Indonesia, apabila membeli produksi dalam negeri.

Sebelumnya marilah kita lihat latar belakang Dunia Penerbangan Indonesia. Industri penerbangan Indonesia dimulai di Bandung oleh Bapak Alm. Nurtanio dengan nama LAPIP sesudah itu berganti nama PT Nurtanio, berubah nama PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (PT IPTN) dan sekarang menjadi PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Semenjak tahun 1976, PT DI sudah berhasil merakit helikopter NBO-105 (Nusantara Bolkow 105) hasil kerjasama dan patungan dengan perusahaan helikopter Jerman MBB (Messerschmid Bolkow Blohm). MBB dan Aerospatiale melebur menjadi perusahaan helikopter EUROCOPTER. Sekarang Eurocopter dan PT DI sudah merakit dan memproduksi helikopter Cougar EC-725 hasil pengembangan dari helikopter sebelumnya Superpuma AS-332. Hal ini membuktikan bahwa PT DI sudah sejak lama sekali berkiprah dalam merakit dan memproduksi Helikopter. Helikopter Cougar EC-725 inilah yang akan menjadi pesaing unggulan di atas Merlin AW-101, berikut ulasannya.

PERBANDINGAN KEMAMPUAN TERBANG KEDUA HELIKOPTER

NO
FAKTOR PERBANDINGAN
Cougar EC-725
Dengan 2 Engine
Merlin AW-101
Dengan 3 Engine
1
Daya mesin helikopter (Engines power)
2.382 hp
2.100 hp
2
Berat maximum helikopter (Maximum weight)
11.200 kg
14.600 kg
3
Daya angkut maximum helikopter (Payload)
5.670 kg
5.520 kg
4
Kecepatan maximum jelajah (Max. cruising speed)
154 kts
150 kts
5
Kecepatan maximum operasi (Max. operating speed)
175 kts
167 kts
6
Maximum jarak terjauh terbang (Maximum range)
857 km
833 km
7
Ketinggian terbang maximum (Maximum ceiling)
6.095 m
4.575m

Dari tabel di atas didapatkan kepastian bahwa Cougar EC-725 secara kemampuan terbang dan teknis (Helicopter Performance) jauh lebih unggul dari pada Merlin AW-101. Keunggulan Berat maximum helikopter sama sekali tidak menjamin tentang keunggulan kemampuan terbang. Malah menghasilkan sebaliknya, dengan bertambahnya berat maka helikopter tersebut menjadi lebih lamban dan berkurang kemampuan terbangnya. Dengan 3 (tiga) engine pada Merlin AW-101 akan mengeluarkan biaya perawatan (Maintenance) yang lebih besar dan tentu saja dengan 3 (tiga) engine akan mengkonsumsi bahan bakar lebih banyak dan lebih boros.

Dengan memilih produksi dalam negeri didapatkan beberapa keuntungan tambahan antara lain :

1.      Mencerdaskan Kehidupan Bangsa Indonesia,

Dengan membeli EC-725 produksi PT DI maka Pembeli (Customer) turut serta Mencerdaskan Kehidupan Bangsa. Sesuai diamanatkan di dalam Pembukaan UUD45 menjadi tujuan utama Bangsa Indonesia, sangat sesuai dengan Misi dan Visi PT Dirgantara Indonesia.

2.      Transfer Teknologi

Dengan membeli EC-725 produksi PT DI maka Pembeli (Customer) turut berperan dalam Transfer teknologi kepada bangsa Indonesia khususnya karyawan PT DI terutama generasi dan angkatan muda.

3.      Sumber Daya Manusia

Dengan membeli EC-725 produksi PT DI maka Pembeli (Customer) turut berperan dalam Meningkatkan Kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) bangsa Indonesia khususnya karyawan PT DI untuk bersaing dengan bangsa maju dalam menghadapi persaingan teknis dan bisnis di Era Globalisasi.

Penulis tidak bermaksud untuk menambah dan mempertajam kontroversi yang ada, tetapi berusaha untuk membuktikan kebenaran yang ada dengan logika sederhana dan pikiran yang tulus. Demikian tulisan ini dibuat untuk dijadikan pertimbangan dan kajian lebih lanjut.

Salam untuk semuanya dari Mula Fridus, baca selengkapnya di http://mulafbb.blogspot.com

 

Bahan dan Referensi tulisan :

EC725 Super Cougar Mk II, Data from {Eurocopter.com}

General characteristics

  • Crew: 1 or 2 (pilot + co-pilot)
  • Capacity: 1 chief of stick + 28 troops or 5,670 kilograms (12,500 lb) payload
  • Length: 19.5 m (64 ft 0 in)
  • Height: 4.6 m (15 ft 1 in)
  • Empty weight: 5,330 kg (11,751 lb)
  • Gross weight: 11,000 kg (24,251 lb)
  • Max takeoff weight: 11,200 kg (24,692 lb)
  • Power plant: 2 × Turboméca Makila 2A1 turboshaft engines, 1,776 kW (2,382 hp) each
  • Main rotor diameter: 16.20 m (53 ft 2 in)
  • Main rotor area: 206.1 m2 (2,218 sq ft)

Performance

  • Maximum speed: 324 km/h (201 mph; 175 kn) in level flight
  • Cruising speed: 285 km/h (177 mph; 154 kn)
  • Never exceed speed: 324 km/h (201 mph; 175 kn)
  • Range: 857 km (533 mi; 463 nmi)
  • Ferry range: 1,325 km (823 mi; 715 nmi)
  • Service ceiling: 6,095 m (19,997 ft)
  • Rate of climb: 7.4 m/s (1,460 ft/min)

 

Data from Jane's All The World's Aircraft 2003–2004, Agusta Westland AW-101 Merlin

General characteristics

  • Crew: 3–4
  • Capacity:
  • 26 troops (38 passengers) or 5 tons of payload or 4 stretchers (with sonar removed).
  • 30 seated troops or 45 standing fully equipped combat troops, or 3,050 kg (6,724 lb) of internal payload, 5,520 kg (12,169 lb) of external payload, or 16 stretchers for AW101
  • Length: 19.53 m-fuselage length (64 ft 1 in)
  • Rotor diameter: 18.59 m (61 ft 0 in)
  • Height: 6.62 m (21 ft 8¾ in)
  • Disc area: 271.51 m² (2,992.5 ft²)
  • Empty weight: 10,500 kg (23,149 lb)
  • Max. takeoff weight: 14,600 kg (32,188 lb)
  • Power plant: 3 × Rolls-Royce Turbomeca RTM322-01 turboshafts, 1,566 kW (2,100 shp)

Performance


 

Selasa, 05 April 2016

Tabrakan Pesawat Terbang


TABRAKAN PESAWAT TERBANG ANTARA BATIK AIR DENGAN TRANS NUSA DI HALIM PK

Kita patut bersedih dengan terjadinya tabrakan pesawat terbang (Batik Air dan Trans Nusa di landasan pacu/runway Halim PK pada tanggal 4 April 2016), bagaimana tidak sebab sangat kecil terjadinya tabrakan seperti ini kalau prosedur penerbangan diikuti dengan Baik dan Benar. Kita masih diingatkan pada peristiwa mengerikan tabrakan dua pesawat terbang Boeing 747 di landasan pacu Tenerife Kepulauan Canary Spanyol pada tanggal 27 Maret 1977 dan merupakan kecelakaan terburuk dalam sejarah penerbangan dengan memakan korban jiwa 583 orang meninggal dunia dan tercatat paling banyak korban jiwa sampai saat ini.

Memang benar tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan di Halim PK tersebut, tetapi masalah ini tidak boleh dianggap sepele, dan harus diselidiki sampai tuntas apa yang menjadi  penyebabnya?

Beberapa analisa kemungkinan yang menjadi penyebab kecelakaan ini antara lain :

1.       Lampu Anti Benturan/Tabrakan (Anti Collision Light)

Sesuai dengan namanya yang berarti Lampu Anti Tabrakan/Benturan. Di pesawat terbang lampu ini berwarna putih berkilat seperti Blizt kamera (Flashing). Terpasang pada bagian yang mudah terlihat seperti di ujung ekor dan ataupun di bawah badan pesawat terbang.

Di dalam aturan dan prosedurnya, lampu ini harus dihidupkan selama pesawat menghidupkan mesin (Engine ON) apalagi sedang bergerak (Taxi) ataupun pesawat di Derek (Towing, Engine OFF). Anti Collision light harus menyala terus baik siang apalagi malam hari tidak boleh dimatikan apalagi rusak. Pendereknya (Towing Car) juga harus menyalakan lampu bahaya (Hazard) kalau sedang bergerak.

Apakah Anti Collision dari Batik Air dan Trans Nusa menyala (ON) sewaktu pesawat terbang sedang bergerak, apakah lampu hazard Towing Car juga menyala waktu menderek pesawat terbang?


2.       Radio Komunikasi (Radio Communication)

Landasan Pacu (Runway) yaitu tempat pesawat terbang (Take-off) dan mendarat (Landing) harus senantiasa bersih (Clear) dari lalu lintas (Traffic). Siapapun yang masuk atau melintas Runway harus seijin dan sepengetahuan Pengendali Lalu Lintas Udara (Air Traffic Controller / ATC). Untuk berbicara memohon dan mendapatkan ijin dari ATC harus menggunakan Radio Komunikasi (Radio Communication)

Apakah Radio Komunikasi dari Batik Air dan Trans Nusa ada dan aktif sewaktu pesawat terbang memasuki dan selama berada di Runway?

Apakah kedua traffic tersebut sudah mendapatkan ijin dari ATC untuk memasuki runway dan apakah ATC sudah mengetahuinya kalau kedua traffic tersebut memasuki atau sedang berada di runway?


3.       Salah Pengertian (Miscommunication/Misunderstanding)

Setelah Batik Air dan Trans Nusa aktif berkomunikasi dengan ATC untuk memohon dan atau mendapatkan ijin memasuki Runway. Apakah kedua belah pihak (Batik Air dan Trans Nusa) mengerti arti percakapan dan komunikasi tersebut? Apakah ada yang ragu ragu dan tidak mengerti dari arti percakapan tersebut? Sebab hal inilah yang terjadi pada tabrakan pesawat terbang di Canary Island tersebut di atas disebabkan oleh masalah pemahaman bahasa dan menimbulkan salah pengertian (Miscommunication/Misunderstanding).


4.       Jarak Pandang Penglihatan (Visibility)

Kecelakaan tersebut terjadi pada malam hari sekitar jam 20.00 dimana penglihatan Pilot sangat kurang apalagi kalau turun hujan. Maka Anti Collision Light harus menyala.

 

5.       Kontur dari Runway (Runway Slope)

Runway tidak selamanya datar sebab mengikuti kontur tanah. Kadang kadang turun ditengah runway sehingga Pilot dapat melihat dari ujung ke ujung runway. Yang terjelek bila kontur tanah naik ditengah runway, akibatnya pandangan Pilot terbatas hanya sampai setengah runway saja sedangkan apa yang ada selebihnya tidak kelihatan apalagi sampai ujung runway. Contohnya Bandara Husein SN Bandung, dalam hal ini peran sentral ATC (selalu berada di Menara tengah runway) yang dapat melihat traffic dari ujung ke ujung runway sangat sangat dibutuhkan.

Apakah ATC dapat melihat dengan jelas kedua traffic tersebut (Batik Air dan Trans Nusa) yang sedang berada di runway ataukah tidak melihatnya? dan apakah ATC sudah memberikan peringatan secukupnya kepada kedua traffic tersebut?

Demikian analisa kemungkinan terjadinya kecelakaan tersebut. Tulisan dan Analisa lebih lanjut menunggu terkumpulnya temuan temuan di lapangan dan hasil penyelidikan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Salam untuk semuanya dari Mula Fridus, baca selengkapnya di http://mulafbb.blogspot.co.id/

 

Referensi bacaan :

Penjelasan Dirjen Perhubungan Udara Soal Batik Air Tabrakan

JAKARTA - Pesawat Batik Air jenis Boeing 737-800 bertabrakan dengan Pesawat TransNusa dengan jenis ATR 4202 seri 600 di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur pada Senin, 4 April 2016 sekira pukul 19.55 WIB.

"Telah terjadi runway incursion di Bandara Halim Perdana Kusuma antara Pesawat Batik Air dengan Pesawat TransNusa yang sedang towing menuju apron selatan Bandara Halim Perdanakusuma," papar Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Suprasetio saat konferensi pers di Bandara Halim, Jakarta Timur, Selasa (5/4/2016).

Suprasetio menjelaskan, atas insiden tersebut pesawat jenis Boeing 737-800 itu pun mengalami patah di sayap kiri pesawat, sementara pesawat jenis ATR 402 mengalami patah di ujung sayap sebelah kiri dan ekor pesawat.

Beruntungnya tak ada korban jiwa dalam insiden tersebut, seluruh penumpang yang terdiri dari 48 dewasa dan satu anak, serta tujuh awak pesawat berhasil diselamatkan.

"Sedangkan pesawat Transnusa dalam keadaan kosong yang sedang dipindahkan menuju ke Afron selatan dua teknisi di dalam pesawat dan dua teknisi di towing," tutupnya. (day)

FOTO: Penampakan Pesawat TransNusa yang Tabrakan dengan Batik Air di Halim


Senin, 4 April 2016 21:38 WIB
 
Ist/Tribunnews.com, Kondisi pesawat TransNusa yang tabrakan dengan Pesawat Batik Air ID- 7703 di landasan pacu Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (4/4/2016). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pesawat Batik Air ID- 7703 bertabarakan pesawat TransNusa di landasan pacu Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (4/4/2016).

Dari foto yang diperoleh Tribunnews.com, penampakan pada pesawat TransNusa terlihat sayap vertikal terpotong dan terlihat rusak parah.

Kejadian tersebut dibenarkan Direktur Operasional Lion Air Group Daniel Putut Adi Kuncoro saat dihubungi wartawan.

"Benar kecelakaan. Pesawat kami Batik Air yang menabrak," ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon.

‎Daniel menyebutkan pesawat yang mengalami kecelakaan, merupakan pesawat tujuan Halim Perdanakusuma (HLP)-Makasar ‎(UPG).

Sementara itu kondisi pesawat Batik Air juga terlihat parah, sayap vertikal pesawat ikut rusak.

Pesawat Batik Air ID- 7703 bertabarakan di landasan pacu Halim Perdanakusuma, Jakarta, Senin (4/4/2016) malam.

Kamis, 11 Februari 2016

Sekilas Tentang Uji Terbang


Dengan jatuhnya pesawat Super Tucano EMB-314 pabrikan Embraer Brazilia saat melakukan Uji Terbang (Flight Test) di Blimbing Malang, saya turut mengucapkan Berduka cita sedalam dalamnya atas musibah yang menimpa tersebut. Untuk mencegah supaya peristiwa atau tragedi tersebut tidak terulang kembali. Berikut saya paparkan kegiatan uji terbang yang selama ini dilakukan oleh PT Dirgantara Indonesia. Tujuannya untuk meningkatkan Keselamatan Terbang (Flight Safety) terutama pada saat uji terbang.

Uji terbang dikategorikan ada beberapa jenis :

1.       Uji terbang Maintenance, yaitu uji terbang yang dilakukan setelah pesawat tersebut mengalami perbaikan atau perawatan di beberapa systemnya  (Mesin, Radio, Navigasi, Alat kemudi dll.)

2.       Uji terbang Experimental, yaitu uji terbang pesawat yang belum pernah ada sebelumnya (Prototype), tujuannya yaitu untuk mengetahui sifat sifat pesawat baru (Flight Characteristic of Prototype aircraft) yang baru dirancang dan belum pernah ada di dunia (N250, RA80, N219 dll.)

3.       Uji terbang Development, uji terbang pesawat yang sudah ada (Non Prototype), tujuannya untuk mengetahui sifat sifat pesawat apabila pesawat tersebut mengalami perubahan bentuk dari asalnya atau modifikasi system alatnya (Hydraulic, Mesin, bentuk moncong atau sayap dll.)

4.       Uji terbang Sertifikasi, uji terbang yang dilaksanakan bersama Otoritas Penerbangan setempat pada pesawat Prototype dengan tujuan untuk mendapatkan Sertifikat Tipe (Type Certificate) atau uji terbang yang dilaksanakan bersama Otoritas Penerbangan setempat pada pesawat Development/Modifikasi yang sudah sukses dan berhasil baik untuk mendapatkan Sertifikat Kelaikan Udara (Certificate of Airworthiness)

5.       Uji terbang Produksi, uji terbang pada pesawat terbang yang sudah selesai diproduksi serial secara massal dan sudah mendapatkan Type Certificate dari Otoritas Penerbangan setempat.

6.       Uji terbang Pembeli pesawat (Customer), uji terbang yang dilakukan bersama Customer (Customer Acceptance Flight) tujuannnya yaitu agar pesawat tersebut dapat diterima dan diambil oleh Customer.

Beberapa pertimbangan dalam melakukan Uji Terbang :

1.       Dilakukan bertahap, tahap demi tahap, dimulai dari yang paling sederhana, yang paling aman dan tidak berbahaya. Setelah hasilnya dianalisa dan diketahui, baru dilakukan tahap berikutnya yang lebih sulit dan berbahaya. Dalam hal ini tidak mengenal yang namanya MENTAL TERABASAN….yaitu melakukan Uji Terbang dengan melakukan lompatan jauh kedepan tanpa mengetahui hasil sebelumnya.

2.       Uji terbang tidak boleh dilakukan di atas kota yang padat penduduk. Uji terbang harus mempunyai area tertentu (Flight Test Area) yang tidak padat penduduk (Unpopulated Area)

3.       CLEAR AND SUNNY DAY…… begitulah kata instruktur saya waktu bersekolah di National Test Pilot School California Amerika dulu. Artinya jangan melakukan uji terbang pada saat cuaca jelek (hujan, berkabut, gelap dll…)

4.       Melakukan Pre Flight Briefing bersama dengan pihak terkait penerbangan (Operasi penerbangan untuk perijinan penerbangan, Meteorologi untuk mendapatkan cuaca saat itu, Mekanik perawatan pesawat untuk mengetahui kondisi pesawat secara detail dan menyeluruh.) sebelum melaksanakan uji terbang. Hal ini sangat penting…. Sebab Pilot dan Aircrew harus mengetahui dengan jelas dan detail tentang kondisi pesawat (Jumlah bahan bakar, Perbaikan alat, perawatan pesawat dll.) sebelum terbang dari Mekanik pesawat tersebut. Jikalau Pilot dan Aircrew tidak mengetahui kondisi pesawatnya sebelum terbang, maka hal ini sangatlah berbahaya….

5.       Indonesia adalah Negara berkeTuhanan hal ini ditegaskan pada sila pertama Pancasila. Apakah hal ini gothak gathuk atau bukan.... dan boleh percaya atau tidak?.....di  kalangan dan lingkungan uji terbang banyak yang percaya bahwa kecelakaan pesawat pada saat uji terbang sangat erat hubungannya dengan saat saat perayaan keagamaan di Indonesia. Sudah dua kejadian yang cukup memukul kita semua dan tidak perlu untuk mengulang yang ketiga dan keempat. Kecelakaan Pertama saat jatuhnya pesawat CN235 di Gorda Tangerang adalah pada Hari Raya Peringatan Waisak. Kecelakaan Kedua pada saat Super Tucano jatuh di Blimbing Malang adalah pada Hari Raya Peringatan Galungan Kuningan dan pada hari itu juga adalah Rabu Abu yaitu hari pertama umat Kristiani berpantang dan berpuasa selama 40 hari lamanya sebelum Paskah. Untuk itu sebelum setiap kali melaksanakan Uji Terbang dan setelah selesai melaksanakan Pre Flight Briefing ada baiknya disambung dengan Berdoa bersama kepada Tuhan memohon Keselamatan dan Kesuksesan Uji Terbang……..Amin.

Salam untuk semuanya dari Mula Fridus.

 

Referensi bacaan :

CN235 Accident description in Gorda Tangerang

Last updated: 11 February 2016

Status:
Date:
Thursday 22 May 1997
Type:
Operator:
Registration:
PK-XNT
C/n / msn:
N018
First flight:
1991
Crew:
Fatalities: 6 / Occupants: 6
Passengers:
Fatalities: 0 / Occupants: 0
Total:
Fatalities: 6 / Occupants: 6
Airplane damage:
Damaged beyond repair
Location:
near Gorda AFB (http://aviation-safety.net/database/country/flags_15/PK.gif   Indonesia)
Phase:
Maneuvering (MNV)
Nature:
Test
Departure airport:
?
Destination airport:
?

Narrative:
Lost control while testing the LAPES (Low Altitude Parachute Extraction System) to drop a 4000 kg load from a height of 200 m. The parachute harness apparently detached during the process, causing the 400 kg load to remain on the cargo door. Control was lost and the aircraft crashed.

Classification:
Loss of control

 

Super Tucano Accident description in Blimbing Malang.

ASN Wikibase Occurrence # 184344

Last updated: 11 February 2016

Date:
10-FEB-2016
Time:
10:30 a.m.
Type:
Owner/operator:
Indonesian Air Force
Registration:
PT-ZFQ/TT-310
C/n / msn:
31400184
Fatalities:
Fatalities: 2 / Occupants: 2
Other fatalities:
2
Airplane damage:
Written off (damaged beyond repair)
Location:
Malang, East Java - https://aviation-safety.net/database/country/flags_15/PK.gif  Indonesia
Phase:
En route
Nature:
Military
Departure airport:
Abdurrahman Saleh airport
Destination airport:
Abdurrahman Saleh airport

Narrative:
The plane crashed into a house while performing a test flight, obviously due to a technical failure. Two persons on the ground died, as well as the pilot of the plane and the flight engineer. The pilot did manage to eject from the plane, but he died from injuries sustained in the crash.